BuserbhayangkaraTV||KAMPUNG DAGANG — Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga mulai melumpuhkan urat nadi perekonomian masyarakat. Penurunan kualitas udara yang ekstrem memaksa warga membatasi aktivitas di luar rumah. Akibatnya, perputaran uang di tingkat bawah melambat dan pendapatan sektor usaha rakyat anjlok tajam.
Dampak paling nyata dirasakan oleh para pekerja informal dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pedagang kaki lima, pengemudi ojek online, hingga buruh harian mengaku kehilangan sebagian besar omzet mereka. Kondisi jalanan dan pasar tradisional yang sepi membuat barang dagangan tidak laku, sementara risiko kesehatan di luar ruangan terlalu tinggi untuk diabaikan.
"Kalau nekat keluar, dada sesak dan mata perih. Tapi kalau di rumah saja, tidak ada uang untuk makan. Pembeli juga sepi sekali karena semua orang milih berdiam di rumah," ujar salah seorang pedagang setempat.
Selain sektor perdagangan, gangguan besar juga melanda sektor transportasi dan logistik. Jarak pandang yang sangat terbatas di jalan raya memperlambat distribusi bahan pangan. Keterlambatan ini memicu kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan barang pokok yang berpotensi menaikkan harga di pasar, di tengah kondisi keuangan warga yang sedang sulit.
Sektor perkebunan yang menjadi tumpuan hidup banyak keluarga juga tidak luput dari imbas negatif. Asap tebal yang menghalangi matahari membuat pertumbuhan tanaman terganggu, sehingga hasil panen diprediksi akan menurun dalam beberapa waktu ke depan.
Masyarakat kini sangat berharap adanya langkah cepat dari pemerintah daerah. Selain penanganan pemadaman titik api, warga menantikan kompensasi bantuan sosial, pembagian masker standar medis secara gratis, serta pembukaan posko kesehatan terpadu untuk meringankan beban biaya hidup yang kian membengkak.
Pkn Inhu pungkasnya
icang



Social Header