Breaking News

BARU SEBULAN SELESAI, JALAN PRINGSEWU–PARDASUKA SUDAH RETAK DAN “PECAH SERIBU”

Selasa,1 September 2026.

BUSERBHAYANGKARATV.CO.ID, PRINGSEWU, LAMPUNG — Kualitas pekerjaan Rekonstruksi Jalan Ruas Pringsewu–Pardasuka Link 034 di Kabupaten Pringsewu menjadi sorotan setelah jalan rigid pavement yang disebut baru selesai sekitar satu bulan lalu ditemukan mengalami keretakan di sejumlah titik.


Pantauan sosial kontrol dilakukan di lokasi pada Minggu (30/08/2026). Dari hasil pantauan dan dokumentasi awak media, permukaan beton jalan terlihat mengalami retak-retak halus yang menyebar atau yang oleh masyarakat disebut “pecah seribu”. Selain itu, ditemukan pula retakan memanjang pada beberapa bagian badan jalan.

Munculnya kerusakan dalam waktu relatif singkat tersebut menimbulkan pertanyaan publik mengenai kualitas konstruksi, mutu material, metode pelaksanaan, serta efektivitas pengawasan pekerjaan. Apalagi proyek tersebut merupakan pembangunan infrastruktur yang dibiayai melalui anggaran pemerintah sehingga kualitas dan pertanggungjawabannya menjadi perhatian masyarakat.

Berdasarkan papan informasi “DIREKSI KEET” yang berada di lokasi, pekerjaan tersebut merupakan Rekonstruksi Jalan Ruas Pringsewu–Pardasuka Link 034 Kabupaten Pringsewu, dengan Nomor Kontrak 01/KTR/PPK-JLN.1/RKN-034/V.03/IV/2026, Tahun Anggaran 2026. Kontraktor pelaksana tercantum CV. Mahardika Abyakta Sentosa, sementara konsultan pengawas adalah RC Consultant. Waktu pelaksanaan tercantum selama 150 hari kalender dan pekerjaan berada di bawah Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung.
Ketua DPC TRINUSA Pringsewu, Abdul Manap, turut memberikan sorotan terhadap kondisi tersebut.


 Menurutnya, kerusakan yang muncul begitu cepat perlu mendapatkan perhatian serius dari instansi terkait karena menyangkut kualitas infrastruktur dan penggunaan uang negara.

“Ini bukan sekadar persoalan retak atau tidak retak. Yang perlu dipastikan adalah mengapa jalan yang relatif baru selesai sudah menunjukkan kerusakan di beberapa titik. Pemerintah melalui dinas teknis harus segera melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan terbuka, sehingga masyarakat mendapatkan kepastian mengenai kualitas pekerjaan ini,” tegas Abdul Manap.

Ia menambahkan, pihaknya tidak ingin mengambil kesimpulan sepihak bahwa kerusakan tersebut terjadi akibat kesalahan pelaksanaan sebelum ada pemeriksaan teknis. Namun, menurutnya, kondisi lapangan yang ditemukan sudah cukup menjadi alasan bagi pihak berwenang untuk melakukan evaluasi.


“TRINUSA meminta persoalan ini jangan dianggap sepele. Kami tidak menuduh pihak mana pun. Tetapi ketika infrastruktur publik yang baru dikerjakan sudah terlihat mengalami retakan, tentu publik berhak mempertanyakan kualitasnya. Harus ada penjelasan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis, bukan sekadar asumsi,” ujarnya.

Abdul Manap juga menyoroti fungsi pengawasan dalam pekerjaan tersebut. Menurutnya, keberadaan konsultan pengawas seharusnya menjadi bagian penting dalam memastikan setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis, mutu material, metode konstruksi, dan ketentuan dalam kontrak.

“Kalau memang ada standar dan spesifikasi teknis yang harus dipenuhi, maka semuanya harus dibuktikan. Kami berharap Dinas BMBK Provinsi Lampung bersama kontraktor dan konsultan pengawas turun langsung ke lapangan, melakukan pemeriksaan, kemudian menyampaikan hasilnya kepada masyarakat secara transparan,” kata Abdul Manap.

Sementara itu, warga sekitar berinisial KM juga menyayangkan kondisi jalan tersebut. Ia mengatakan pembangunan jalan tersebut kurang lebih baru selesai sekitar satu bulan, namun kini sudah terlihat retak di sejumlah bagian.
“Pembangunan jalan ini kurang lebih baru sebulan selesai, Mas. Kalau sudah pecah seribu dan retak memanjang begini, kualitas mutunya ya buruk. Ini uang negara yang berasal dari pajak rakyat. Seharusnya dikerjakan dengan baik dan sesuai spesifikasi, bukan terlihat seperti asal jadi,” ujar KM.

Abdul Manap menegaskan, pihaknya akan terus melakukan fungsi kontrol sosial dengan tetap mengedepankan data dan fakta di lapangan. Ia meminta agar persoalan tersebut tidak berhenti pada dokumentasi kerusakan, tetapi dilanjutkan dengan pemeriksaan teknis dan tindak lanjut yang jelas.

“Yang kami perjuangkan adalah kepentingan masyarakat. Jalan ini dibangun menggunakan uang rakyat, sehingga masyarakat berhak mendapatkan jalan yang berkualitas dan aman digunakan. Jangan sampai baru selesai dibangun, masyarakat kembali dihadapkan pada persoalan kerusakan dan akhirnya membutuhkan anggaran perbaikan lagi,” tegasnya.
Saat awak media mencoba melakukan konfirmasi dan koordinasi ke kantor Direksi Keet di lokasi pekerjaan, tidak terdapat pegawai yang berada di tempat. Upaya memperoleh keterangan langsung dari pihak terkait pun belum mendapatkan hasil.

Hingga berita ini diterbitkan, Dinas BMBK Provinsi Lampung, CV. Mahardika Abyakta Sentosa selaku kontraktor pelaksana, serta RC Consultant selaku konsultan pengawas belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab keretakan, hasil pemeriksaan mutu, maupun langkah penanganan terhadap kondisi jalan tersebut.

Masyarakat berharap pemerintah segera turun melakukan pemeriksaan teknis secara menyeluruh. Apabila hasil pemeriksaan nantinya menunjukkan adanya bagian pekerjaan yang tidak memenuhi ketentuan teknis atau kontrak, masyarakat berharap dilakukan perbaikan sesuai aturan dan tanggung jawab pihak terkait.

Sorotan terhadap proyek ini pada akhirnya bukan hanya mengenai kondisi fisik jalan, tetapi juga menyangkut transparansi, kualitas pembangunan, pengawasan, serta pertanggungjawaban terhadap penggunaan anggaran publik. Masyarakat menunggu jawaban resmi dari pihak berwenang agar tidak muncul spekulasi di tengah publik.


Redaksi
© Copyright 2022 - BUSER BHAYANGKARA TV LAMPUNG